Banyak sekali ilmu akuntansi yang saya dapat di Universitas Gunadarma tidak hanya melalui teorinya saja teteapi juga saya belajar beberapa software dasar yang digunakan dalam bidang akuntansi seperti myob,zahir dan lain-lain dan juga mempelajari sistem informasi akuntasi baik dari kuliah maupun lab. selama belajar akuntansi disini saya tidak hanya berikan teori saja tetepi juga diberikan skill dasar yang bermanfaat dalam penggunaan teknologi yang mendukung pada bidang akuntansi ini
Kamis, 05 Juni 2014
Manajemen Resiko Keuangan
Resiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk :
- resiko spekulatif, adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Risiko spekulatif kadang-kadang dikenal pula dengan istilah resiko bisnis. Seseorang yang menginvestasikan dananya disuatu tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya menguntungkan atau malah investasinya merugikan. Risiko yang dihadapi seperti ini adalah risiko spekulatif. Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat menimbulkan kerugian.
- resiko murni, adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila perusahaan menderita kebakaran,maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian. kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian, kebakaran hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan keuntungan, kecuali ada kesengajaan untuk membakar dengan maksud-maksud tertentu. Risiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu cara menghindarkan risiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian besarnya kerugian dapat diminimalkan. itu sebabnya risiko murni kadang dikenal dengan istilah risiko yang dapat diasuransikan
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu.
Tujuan utama manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Resiko volatilitas harga yang dihadapi ini disebut dengan resiko pasar. Risiko pasar terdapat dalam berbagai bentuk. Meskipun volatilitas harga atau tingkat, akuntan manajemen perlu mempertimbangkan resiko lainnya:(1) risiko likuiditas, timbul karena tidak semua produk manajemen dapat diperdagangkan secara bebas,(2) diskontinuitas pasar, mengacu pada risiko bahwa pasar tidak selalu menimbulkan perubahan harga secara bertahap,(3) risiko kredit, merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak manajemen risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya,(4) risiko regulasi, adalah risiko yang timbul karena pihak otoritas public melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu,(5) risiko pajak, merupakan risiko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak dapat memperoleh perlakuan pajak yang diinginkan, dan(6) risiko akuntansi, adalah peluang bahwa suatu transaksi lindung nilai tidak dapat dicatat selain bagian dari transaksi yang hendak dilindung nilai.
Akuntansi manajemen memainkan peran yang penting dalam proses risiko manajemen. Mereka membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantifikasi keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternative, mengukur potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung nilai tertentu dan mengevaluasi program lindung nilai. Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen resiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternative strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Di dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
(1) antisipasi pergerakan kurs,(2) pengukuran risiko kurs valuta asing yang dihadapi perusahaan,(3) perancangan strategi perlindungan yang memadai, dan(4) pembuatan pengendalian manajemen risiko internal. Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perubahan kurs valas juga mengubah nilai aktiva bersih, laba, dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran akuntansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis potensi risiko: translasi Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi.
FASB menerbitkan FAS No 133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan April 2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas akuntansi untuk transaksi derivative dan lindung nilai. Provisi dasar standar ini adalah:
- seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
- keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
- lindung nilai haruslah sangat efektif agar layak mendapatkan perlakuan akuntansi khusus, yaitu keuntungan atau kerugian atas instrument lindung niai secara tepat harus mengimbangi keuntungan dan kerugian sesuatu yang dilindungi nilai
- hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
- keuntungan atau keruhian dari investasi bersih dalam mata uang asing pada awalnya dicatat dalam laba komprehensif lainnya
- keuntungan atau kerugian lindung nilai terhadap arus kas masa depan yang belum pasti, seperti perkiraan penjualan ekspor, pada awalnya diakui sebagai bagian dari laba komprehensif.
sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko?veaction=edit
http://sitinurloli.blogspot.com/2012/06/manajemen-resiko-keuangan.html
PERENCANAAN DAN KENDALI MANAJEMEN
Perencanaan dan kendali manajemen sangat penting bagi perusahaan. Mata uang yang mengambang, resiko kedaulatan, pembatasan terhadap pengirim dana lintas batas nasional, perbedaan dalam system pajak nasional, perbedaan tingkat suku bungan dan pengaruh harga komoditas dan ekuitas yang berubah-ubah terhadap aktiva, laba, dan biaya modal perusahaan merupakan variable yang memperumit keputusan manajemen. Persaingan global dan cepatnya penyebaran informasi mendukung semakin sempitnya perbedaan nasional dalam praktek akuntansi manajemen. Tekanan tambahan mencakup antara lain perubahan pasar dan teknologi, pertumbuhan privatisasi, insentif biaya, dan kinerja serta koordinasi operasi global melalui joint venture dan kaitan strategis lainnya.
Perusahaan dalam melakukan kendali manajemen memerlukan alat perencanaan yang dapat mengidentifikasi factor-faktor yang relevan di masa depan, pemindaian terhadap lingkungan eksternal dan internal. Alat tersebut membantu perusahaan dalam mengenali kesempatan dan tantangan yang ada. Salah satu alat tersebut adalah analisis SWOT yang menyangkut kekuatan dan kelemahan perusahaan yang berkaitan dengan lingkungan operasi perusahaan.
Analisis SWOT
1 . Strengths
2 . Weaknesses
3 . Opportunities
4 . Trhreats
Akuntan membantu memberikan data yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan perencanaan strategis. Informasi juga bisa berasal dari sumber selain catatan akuntansi.
keputusan untuk melakukan investasi luar negeri merupakan elemen yang sangat penting dalam strategi global sebuah perusahaan multinasional. Resiko investasi diikuti oleh lingkungan yang asing, rumit, dan senantiasa berubah. Perencanaan formal merupakan suatu keharusan dan umumnya dilakukan dalam suatu kerangka penganggaran modal yang membandingkan manfaat dan biaya investasi yng diusulkan. Perbedaan dalam hokum pajak, system akuntansi, laju inflasi, resiko nasionalisasi, kerangka mata uang, segmentasi pasar, pembatasan dalam pengalihan laba ditahan dan perbedaan dalam bahasa dan budaya menambah unsur-unsur kerumitan yang jarang ditemui dalam lingkungan domestic. Adaptasi (penyesuaian) oleh perusahaan multinasional atas model perencanaan investasi tradisional telah dilakukan dalam tiga bidang pengukuran:
(A) menentukan pengembalian yang relevan untuk investasi
Seorang manajer harus menentukan tingkat pengembalian yang relevan untk mengalisis kesempatan investasi asing. Namun, tingkat pengembalian yang relevan merupakan masalah sudut pandang: proyek luar negeri atau induk perusahaan.
Pengembalian dari dua sudut pandang ini dapat berbeda secara signifikan karena beberapa hal:
1pembatasan oleh pemerintah atas repatriasi laba dan modal
2 biaya izin, royalt, dan pembayaran lain yang merupakan laba bagi induk perusahaan namun merupakan beban bagi anak perusahaan
3perbedaan laju inflasi nasional
4 perubahan kurs valuta asing
5 perbedaan pajak
(B) mengukur ekspektasi arus kas
Bagi manajer perusahaan multinasional, mengukur ekspektasi arus kas suatu investasi asing merupakan hal yang cukup menantang. Perkiraan penerimaan didasarkan pada proyeksi penjualan dan pengalaman antipasti penagihan. Beban operasi dan pajak local juga sama-sama diramalkan. Namun demikian, terdapat tambahan kerumitan yang harus dipertimbangkan:
- arus kas proyek vs induk perusahaan
- arus kas induk perusahaan yang terkait dengan pendanaan
- pendanaan yang bersubsidi
- resiko politik
(C) menghitung biaya modal perusahaan multinasional
Teori Capital Budgeting menyatakan, suatu proyek harus menghasilkan rate of return setidaknya sama dengan cost of capital agar proyek dapat diterima.
Metode gabungan ekspektasi pengembalian deviden dan ekpektasi tingkat pertumbuhan deviden.
ke = Di / P0 + g di mana: Di = ekspektasi deviden per lembar saham akhir periode.
P0 = Harga pasar kini saham awal periode.
g = ekspektasi tingkat pertumbuhan deviden.
Implementasi teori capital budgeting internasional tidak selalu langsung dan mudah dilaksanakan. Aspek capital budgeting process dan aspek tepat waktu, perbedaan iklim, budaya, bahasa, IT semakin mempersulit keadaan.
Penyusunan system informasi seluruh dunia milik suatu perusahaan merupakan hal krusial dalam mendukung strategi perusahaan, termasuk proses perencanaan. Keadaan geografi, komunikasi informasi secara formal umumnya menggantikan kontak pribadi antara manajer operasi local dengan manajer kantor pusat. Perkembangan dalam teknologi informasi seharusnya mengurangi, tetapi tidak akan menghilangkan sama sekali kerumitan ini. Rancangan system berpengaruh pada keberhasilan yang dicapai:
1. penyebaran rendah dengan sentralitas yang tinggi, digunakan oleh organisasi yang lebih kecil dengan operasi bisnis internasional yang terbatas, dan system informasi domestic yang mendominasi kebutuhan.
2. penyebaran tinggi dengan sentralisasi yang rendah, digunakan oleh perusahaan multinasional dengan operasi di wilayah geografis yang berbeda-beda.
3. penyebaran yang tinggi dengan sentralitas yang tinggi, dijalankan oleh perusahaan dengan aliansi strategi di seluruh dunia.
. Factor-faktor lingkungan juga mempengaruhi penggunaan informasi yang dihasilkan secara internal. Misalnya pengaruh budaya. Budaya yang tidak nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas cenderung untuk lebih siap menerima teknologi informasi dibandingkan mereka yang tidak nyaman. Factor translasi juga mempengaruhi penggunaan informasi yang dihasilkan. FAS No 52 mewajibkan penggunaan metode translasi temporal ketika melakukan translasi akun-akun perusahaan afiliasi luar negeri yang berada dalam lingkungan berafiliasi tinggi. Meskipun demikian, ketentuan tersebut tidak memenuhi kebutuhan informasi perusahaan yang beroperasi di Negara-negara dengan inflasi tinggi karena cenderung menimbulkan distorsi realitas melalui:
- menilai lebih atau menilai kurang pendapatan dan beban
- melaporkan keuntungan atau kerugian translasi yang besar yang sulit untuk diinterpretasikan
- mendistorsi perbandingan kinerja antarwaktu.
Setelah tujuan strategis dan anggaran modal dibuat, selanjutnya manajemen memfokuskan diri pada perencanaan jangka pendek. Perencanaan jangka pendek mencakup pembuatan anggaran operasional atau rencana laba apabila diperlukan dalam organisasi. Rencana laba ini merupakan dasar bagi peramalan manajemen kas, keputusan operasi, dan skema kompensasi manajemen. Rencana laporan laba rugi perusahaan afiliasi asing pertama-tama dikonversikan menurut prinsip-prinsip akuntansi yang dianut di Negara asal induk perusahaan dan ditranslasikan dari mata uang local ke dalam mata uang induk perusahaan.
sumber:
http://siswidya.blogspot.com/2011/04/perencanaan-dan-kendali-manajemen.html
http://hati-sitinurlola.blogspot.com/2012/06/bab-10-perencanaan-dan-kendali.html
analisa laporan keuangan internasional
Analisis Laporan Keuangan Internasional
Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Analisa laporan keuangan sebenarnya banyak sekali namun pada penelitian kali ini penulis menggunakan analisa rasio keuangan karena analisa ini lebih sering digunakan dan lebih sederhana.
Analisa rasio keuangan adalah perbandingan antara dua/kelompok data laporan keuangan dalam satu periode tertentu, data tersebut bisa antar data dari neraca dan data laporan laba rugi. Tujuannya adalah memberi gambaran kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ketahun. Jenis-jenis analisa rasio keuangan adalah :
a. Rasio Likuiditas
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Ada 3 (tiga) macam rasio likuiditas yang digunakan, yaitu :
1) Current Ratio
2) Acid Test Ratio
3) Cash Position Ratio
b. Rasio Solvabilitas
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajiban-kewajibannya (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang). Ada 4 (empat) rasio solvabilitas yang digunakan. yaitu :
1) Total Debt To Equity Ratio
2) Total Debt To Total Assets Ratio
3) Long Term Debt To Equity
4) Long Term Debt To Total Assets
c . Rasio Profitabilitas
Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam suatu periode tertentu. Ada 4 (empat rasio profitabilitas yang digunakan, yaitu :
1) Return On Equity (ROE)
2) Return On Assets (ROA)
3) Net Profit Margin
4) Gross Profit Margin
Tujuan analisis keuangan adalah untuk mengevaluasi kinerja perusahaan pada masa kini dan masa lalu dan untuk menilai apakah kinerjanya dapat dipertahankan. Terdapat dua alat penting dalam melakukan analisis keuangan :
1. Analisis Rasio
Ada dua masalah yang harus dibahas ketika melakukan analisis rasio dalam lingkungan internasional :
a. Apakah perbedaan lintas Negara dalam prinsip akuntansi menyebabkan perbedaan yang signifikan dalam angka-angka laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan dari Negara yang berbeda?
b. Seberapa jauh perbedaan dalam budaya serta kondisi persaingan dan ekonomi local memperngaruhi interpertasi ukuran akuntansi dan rasio keuangan, meskipun pengukuran akuntansi dari negeri yang berbeda disajikan ulang agar tercapai “ daya banding akuntansi”? Sejumlah bukti yang kuat menunjukkan adanya perberdaan besar antarnegara dalam profitabilitas, pengungkit, dan rasio serta jumlah laporan keuangan lainnya yang berasal dari factor akuntansi dan non akuntansi.
c. Seberapa besar perbedaan dalam pos-pos laporan keuangan disebabkan oleh perbedaan prinsip-prinsip akuntansi nasional ? Ratusan perusahaan non AS yang mencatatkan saham di Bursa-bursa efek AS melakukan pengungkapan rekonsiliasi berupa catatan kaki yang memberikan bukti terhadap pernyataan ini, setidaknya dalam konteks perbedaan antara nilai akuntansi berdasarkan GAAP AS dan berdasarkan GAAP non AS.
Suatu penelitian sebelumnya mengenai rekonsiliasi laporan keuangan oleh emiten asing yang disusun oleh SEC cukup informasi. Sekitar separuh dari 528 emiten non AS yang diteliti mengungkapkan perbedaan yang material antara laba yang dilaporkan laporan keuangannya mereka dengan laba bersih menurut GAAP AS. Lima jenis perbedaan laporan keuangan yang diungkapkan oleh sejumlah besar emiten adalah :
1. Depresiasi dan amortisasi
2. Biaya yang ditangguhkan
3. Pajak tangguhan
4. Pensiun
5. Transaksi mata uang asing
2. Analisis Arus Kas
Laporan arus kas yang sangat mendetal sangat diwajibkan menurut GAAP AS, GAAP Inggris, IFRS, dan standar akuntansi di sejumlah Negara yang jumlahnya semakin bertambah. Ukuran-ukuran yang berkaitan dengan arus kas sangat bermanfaat khusunya dalam analisis internasional karena tidak telalu dipengaruhi oleh perbedaan prinsip akuntansi, bila dibandingkan dengan ukuran-ukuran berbasis laba Apabila laporan arus kas tidak disajikan, sering kali ditemukan kesulitan untuk menghitung arus kas dari operasi dan ukuran arus kas lainya dengan menyelesaikan laba berbasis actual.
ANALISIS PROSPEKTIF INTERNASIONAL
Analisis prospektif Mencakup tahap peramalan dan penilaian. Ketika melakukan peramalan para analis membuat ramalan mengenai prospek perusahaan secara eksplisit berdasarkan strategi usaha, catatan akuntansi dan analisis keuangan. Ketika melakukan penilaian, analisis mengubah ramalan kuantitatif menjadi suatu estimasi nilai perusahaan. Penilaian digunakan secara implisit maupun eksplisit dalam banyak keputusan usaha. Terdapat banyak pendekatan penilaian yang berbeda digunakan dalam praktik, mulai dari analisis arus kas terdiskonto hingga teknik yang lebih sederhana yang berdasarkan perkalian berbasis harga.
Analisis prospektif Mencakup tahap peramalan dan penilaian. Ketika melakukan peramalan para analis membuat ramalan mengenai prospek perusahaan secara eksplisit berdasarkan strategi usaha, catatan akuntansi dan analisis keuangan. Ketika melakukan penilaian, analisis mengubah ramalan kuantitatif menjadi suatu estimasi nilai perusahaan. Penilaian digunakan secara implisit maupun eksplisit dalam banyak keputusan usaha. Terdapat banyak pendekatan penilaian yang berbeda digunakan dalam praktik, mulai dari analisis arus kas terdiskonto hingga teknik yang lebih sederhana yang berdasarkan perkalian berbasis harga.
sumber:
http://mikhaanitaria.blogspot.com/2011/05/analisis-laporan-keuangan-internasional.html
http://vixionholick.wordpress.com/2013/06/21/bab-8-analisis-laporan-keuangan-internasional-2/
Minggu, 04 Mei 2014
Ambisi dan Obsesi setelah Lulus
Ambisi saya yaitu saya ingin menjadi orang yang dapat membanggakan kedua orang tua saya, menyenangkan kedua orang tua dan juga menjadi seorang yang dapat mengabdikan diri kepada bangsa dan negara melalui bidang ekonomi. Obsesi saya setelah lulus yaitu mencari kerja secepatnya , melanjutkan pendidikan S2 sambil kerja, lalu fokus ke peningkatan karir dalam bekerja dan mengumpulkan modal untuk membuka usaha di samping memiliki pekerjaan tetap , setalah kira2 sudah mantap dengan usaha yang dijalankan saya akan resign dan fokus kepada usaha yang saya dirikan.
Harmonisasi Akuntansi Internasional
FAKTOR-FAKTOR YANG
MENDORONG
PERLUNYA HARMONISASI TERHADAP AKUNTANSI
Standar dan praktek akuntansi di setiap
negara merupakan hasil interaksi yang kompleks
di
antara faktor ekonomi, sejarah, kelembagaan, dan budaya. Secara terperinci Choi dan Meek
(2005) menyebutkan delapan faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi. Mengingat bahwa di masing-masing negara ke
delapan faktor
tersebut tentu saja tidak seragam,
maka kedelapan faktor tersebut juga dapat menjadi
pendorong perlunya harmonisasi akuntansi.
1. Sumber Pendanaan
Pergeseran atau perubahan sumber pendanaan perusahaan akan berpengaruh
terhadap perubahan atau bertambahnya
pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan. Perusahaan
dengan skala permodalan yang kecil dan hanya
menggunakan sumber pendanaan dari pemilik saja
berarti
mereka tidak atau belum terikat terhadap kreditur atau investor. Sedangkan
perusahaan
dengan skala besar yang memerlukan
pendanaan dari eksternal baik dari kreditur maupun investor berarti mereka telah terikat oleh
kepentingan kreditur maupun investor.
2. Sistem Hukum
Dunia barat memiliki dua orientasi
dasar yaitu
hukum
kode
(sipil) dan hukum umum (kasus).
Dalam negara-negara hukum kode, hukum
merupakan satu kelompok lengkap yang mencakup ketentuan dan prosedur. Kodifikasi
dan
prosedur
akuntansi merupakan hal yang wajar dan
sesuai di sana. Dengan demikian di negara-negara
hukum kode, aturan akuntansi digabungkan dalam hukum nasional dan cenderung sangat lengkap
dan
mencakup banyak prosedur.
3. Perpajakan
Di kebanyakan negara, peraturan pajak secara
efektif menentukan standar akuntansi karena
perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban
dalam akun mereka untuk mengklaimnya
untuk keperluan pajak. Contoh
untuk kasus ini adalah di
Jerman dan Swedia. Di negara lain seperti
di Belanda, akuntansi keuangan dan pajak berbeda :
laba kena pajak pada dasarnya
adalah laba akuntansi
keuangan yang disesuaikan terhadap perbedaan-perbedaan dengan hukum pajak. Bila terdapat perbedaan dalam akuntansi
keuangan dengan hukum pajak, maka perusahaan biasanya
harus menyesuaikan
dengan hukum pajak.
4. Ikatan Politik dan Ekonomi
Penyebaran ide dan teknologi
akuntansi sering dilakukan melalui
penaklukan, perdagangan, dan kekuatan lain. Sistem pencatatan berpasangan (double entry) yang berasal dari Itali pada tahun 1940an secara perlahan-lahan menyebar
luas
di Eropa bersamaan dengan gagasan-gagasan pembaharuan lainnya. Inggris dan Jerman
mengekspor akuntansi
ke
negara-negara yang
menjadi kekuasaannya. Amerika Serikat
memaksakan
praktek akuntansi bergaya Amarika kepada Jepang.
5. Inflasi
Inflasi
menyebabkan distorsi terhadap akuntansi
biaya historis dan mempengaruhi
kecenderungan
suatu negara untuk menerapkan perubahan harga terhadap akun-akun
perusahaan.
Laporan keuangan yang disampaikan manajemen pada saat terjadi inflasi dapat menyesatkan pihak-
pihak yang berkepentingan. Hal
ini dapat
disebabkan
karena pencatatan biaya yang terlalu rendah akibat penghitungan
biaya penyusutan dari aktiva tetap yang dicatat terlalu rendah nilainya. Laba rugi yang dicatat perusahaan bisa jadi tidak
menggambarkan perubahan kepemilikan aktiva yang semestinya karena laba rugi dalam nominal tidak
diikuti dengan
penambahan atau
pengurangan kekayaan yang sepadan.
6. Tingkat Perkembangan Ekonomi
Perkembangan
tingkat ekonomi suatu negara akan mendorong inovasi-inovasi baik dalam bertransaksi
maupun timbulnya instrumen- instrumen
daru dalam berinvestasi, sistem
pembayaran
maupun hal lain yang dibutuhkan dengan perkembangan ekonomi yang terjadi. Saat
ini banyak perekonomian yang berubah
dari
industri
ke perekonomian jasa. Masalah akuntansi
mengenai penilaian aktiva tetap dan depresiasi
yang sangat relevan dalam sekto manufaktur menjadi
semakin kurang penting. Tantangan-
tantangan akuntansi yang baru seperti
penilian
aktiva tidak berwujud
dan
sumber daya manusia
menjadi semakin berkembang.
7. Tingkat Pendidikan
Praktek akuntansi yang rumit dan sangat
kompleks
hanya akan dapat dihasilkan oleh
mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Sementara itu pihak lain informasi akuntansi yang begitu kompleks juga hanya akan bermanfaat
bila
dibaca oleh mereka yang memiliki pendidikan memadai
sehingga mampu memahami
yang
disajikan dalam laporan
akuntansi. Jadi pada
masyarakat di mana sebagian besar penduduknya masih berpendirikan rendah kiranya
akuntansi
yang sederhana akan
lebih bermanfaat bila
dibandingkan
dengan akuntansi yang sangat rumit
dan
kompleks.
8. Budaya
Hofstede dalam Choi
dan
Meek (2005)
menjelaskan bahwa budaya dijelaskan dalam empat dimensi yaitu : individualisme lawan
kolektivisme, jarak kekuasaan yang besar lawan
jarak kekuasaan yang kecil, penghindaran
ketidak pastian yang kuat lawan penghindaran
ketidak pastian
yang lemah, dan maskulinitas yang membedakan
pria dan wanita. Keempat dimensi
tersebut akan berpengaruh
terhadap sistem dan
praktek akuntansi di suatu negara.
PERKEMBANGAN HARMONISASI
AKUNTANSI INTERNASIONAL
Usaha untuk mengharminisasikan
akuntansi
secara internasional sudah dimulai
sejak lama
bahkan sebelum terbentuknya
International Accounting
Standard Commitee (IASC) didirikan
pada tahun
1973. Pada tahun 1959,
Jacob Krayenhof, mtra pendiri sebuah firma akuntan independen Eropa yang utama mendorong
agar
usaha pembuatan standar akuntansi
internasional dimulai. Pada tahun 1976, Organisasi untuk
Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi
(Organization
for Economic Cooperation
and
Development - OECD) mengeluarkan Deklarasi Investasi dalam Perusahaan
Multinasional yang
berisi panduan untuk ”Pengungkapan
Informasi”. Tahun 1978 Komisi Masyarakat Eropa
mengeluarkan
Dekrit Keempat sebagai langkah
pertama menuju harmonisasi akuntansi Eropa.
Pada tahun 1981 IASC mendirikan kelompok
konsultatif yang terdiri dari organisasi non anggota
untuk memperluas masukan-masukan dalam
pembuatan standar internasional. Di tahun 1984, Bursa Efek London menyatakan bahwa pihaknya
berharap agar perusahaan-perusahaan
yang mencatatkan sahamnya ttapi
tidak didirikan di Inggris dan Irlandia menyesuaikan dengan akuntansi internasional. Tahun 2001
Badan Standar Akuntansi Internasional
(International
Accounting Standard Board–IASB) menggantikan
IASC dan mengambil alih tanggungjawab per
tanggal
1 April
2001. Standar
IASB disebut
Standar
Pelaporan Keuangan Internasional
(Intanatioanl Financial Report Standard–IFRS)
dan termasuk di dalamnya IAS yang dikeluarkan
IASC. Di
tahun 2002 Parlemen Eropa menyetujui proposal
Komisi Eropa bahwa secara nyata
seluruh perusahaan Uni
Eropa yang tercatat sahamnya harus mengikuti
standar IASB dimulai selambat-lambatnya tahun
2005 dalam laporan keuangan konsolidasi. Pada tahun yang
sama IASB dan FASB menandatangani ” Perjanjian Norwalk ” yang berisi komitmen bersama terhadap konvergensi standar
akuntansi internasional dan Amerika Serikat.
|
Pada tahun 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada hari
Selasa, 23 Desember 2008 dalam
rangka Ulang tahunnya ke-51 mendeklarasikan rencana Indonesia untuk convergence terhadap International Financial Reporting Standards (IFRS) dalam pengaturan
standar akuntansi
keuangan.
Pengaturan perlakuan akuntansi yang konvergen
dengan IFRS akan diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan
entitas
yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012.
Hal ini diputuskan setelah melalui pengkajian dan penelaahan yang mendalam dengan mempertimbangkan seluruh risiko dan manfaat konvergensi
terhadap IFRS. Compliance terhadap IFRS telah dilakukan oleh ratusan Negara di dunia diantaranya
adalah Korea, India dan Canada yang akan melakukan konvergensi terhadap IFRS pada tahun 2011.
PERBANDINGAN STANDAR
AKUNTANSI KEUANGAN:INDONESIA, AMERIKA
SERIKAT, DAN INTERNASIONAL.
Untuk melihat terjadinya perbedaan praktek akuntansi di berbagai negara di dunia ini, berikut ini disampaikan contoh
Standar Akuntansi
Keuangan
(SAK) yang berlaku di Indonesia,
Amerika
Serikat ( Financial Accounting
Standard
Board/FASB) dan Stadar Akuntansi Internasional
(International Accounting Standard/IAS) atau
International Financial Report Standard (IFRS).
Standar Akuntansi Keuangan Indonesia
Indonesia
sebagai salah
satu negara yang
sedang berkembang tentu saja sangat jauh berbeda
bila
dibandingkan
dengan negara maju seperti Amerika Serikat maupun negara maju lainnya baik dalam praktek bisnis maupun standar dan prektek akuntansinya.
Praktek bisnis yang telah berkembang
di negara maju
dan telah dibuat
standar akuntansinya
namun praktek bisnis
tersebut belum berkembang di Indonesia tentu saja
belum memerlukan
standar akuntansi. Sementara
praktek bisnis yang berkembang di Indonesia
namun
tidak berkembang di negara lainnya termasuk di negara-negara
maju, maka dibuat
standar akuntansinya seperti standar akuntansi untuk perbankan syariah.
Standar Akuntansi Keuangan Amerika Serikat
Amerika merupakan salah satu Negara maju di
dunia yang mempunyai pengaruh politik, ekonomi, social budaya termasuk
akuntansi
terhadap sesame Negara maju maupun Negara berkembang sangat kuat. Dapat diibaratkan
apa
yang terjadi
di Amerika sekarang secara perlahan
atau cepat akan ditiru di Negara lain. Khusus mengenai praktek bisnis di Amerika berkembang begitu
pesat yang pada akhirnya memerlukan standard an praktek akuntansi
yang berkembang
pula sesuai dengan perkembangan bisnis yang terjadi. Bila dibandingkan
dengan Standar Akuntansi Keungan Indonesia maupun Standar Akuntansi Internasional maka standar
akuntansi
keuangan di Amerika jauh lebih banyak akibat
praktek bisnis yang memang lebih beragam
Standar Akuntansi Internasional (IAS
/ IFRS)
International
Accounting
Standard/International Financial Reporting Standard dikeluarkan
oleh International Accounting
Standard Board atau Badan Standar
Akuntansi
Internasional. Mengingat tujuan penyusunan standar akuntansi tersebut untuk dapat
dipergunakan
sebanyak mungking negara di dunia maka dalam penyusunan
standar akuntansi terntu
saja Badan Standar Akuntansi
Internasional mempertimbangkan kondisi sebagian besar negara
sehingga
sesuai dengan kebutuhan mereka. Bila
kita bandingkan dengan
standar akuntansi
Amerika maka dari segi jumlah
standar yang
dikeluarkan Badan Standar Akuntansi Internasional jauh lebih sedikit karena memang mereka tidak mengacu
pada perkembangan
bisnis dan kebutuhan akuntansi di Amerika saja melainkan pada sebagian besar negara sehingga standar akuntansi yang mereka keluarkan dapat
diadopsi baik sebagian maupun sepenuhnya.
Ketiga standar akuntansi tersebut
baik yang berlaku di Indonesia, Amerika Serikat, dan standar Internasional, maka secara kuantitas jelas tampak
perbedaan
yang nyata. Bila melihat dari segi jumlah standar maka standar akuntansi di Indonesia bila dibandingkan
dengan Amerika Serikat hanya kurang lebih sepertiganya
saja sementara bila dibandingkan dengan standar
akuntansi internasional
standar akuntansi di Indonesia lebih banyak. Perbedaan
jumlah standar
akuntansi di Amerika yang jauh lebih banyak dari Indonesia
dapat dijelaskan bahwa tingkat perkembangan ekonomi Amerika jauh lebih maju bila dibandingkan dengan Indonesia sehingga di Amerika telah berkembang berbagai jenis
instrumen yang dapat dikategorikan ke dalam rekening harta, kewajiban, maupun
ekuitas.
Sementara bila di
Indonesia ada standar akuntansi yang sudah berlaku di Amerika tetapi belum ada di
Indonesia menunjukkan bahwa untuk Indonesia hal tersebut
masih
dipandang
belum
mendesak
atau penting mengingat frekuensi
terjadinya masih
rendah atau bahkan belum timbul sama sekali.
IMPLIKASI BAGI STANDAR DAN PRAKTEK AKUNTANSI DI INDONESIA
Indonesia merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari
bisnis internasional atau global tentu saja juga akan menghadapi
permasalahan dalam standar maupun
praktek akuntansinya yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri
dengan
perkembangan akuntansi
yang berlaku secara
internasional. Beberapa negara maju antara lain Perancis telah memberikan kebebasan
kepada perusahaan untuk menggunakan standar akuntansi Perancis maupun
standar akuntansi internasional
yaitu
Ineternational Financial Report Standard
yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board. Pemberian
kebebasan kepada
perusahaan untuk menggunakan IFRS tentu saja
dapat menjadi kecenderungan bagi negara lainnya
yang pada akhirnya akan mendorong
penggunaan
IFRS secara meluas
di berbagai
negara
termasuk
Indonesia. Namun demikian merujuk pada faktor-faktor yang mempengaruhi praktek akuntansi, maka Indonesia
tidak dengan serta merta mengadopsi
IFRS secara penuh atau mutlak mengingat perbedaan faktor pendukung
sehingga harus
dilakukan kajian
terlebih dahulu standar
mana
yang sudah dapat diadopsi dan diterapkan di Indonesia dan standar mana yang belum dapat
diadopsi untuk diterapkan di Indonesia ,
dengan demikian penerapan IFRS dibatasi terlebih dahulu hanya pada perusahaan-perusahaan yang
mempunyai kemampuan penyesuaian tinggi terhadap perubahan
penggunaan standar yang
berlaku di Indonesia
ke IFRS. Perusahaan penanaman modal asing (PMA) dan perusahaan
yang telah go publik mungkin merupakan perusahaan-perusahaan yang
telah siap
beralih dari penggunaan standar akuntansi
Indonesia ke
dalam standar akuntansi internasional mengingat selama ini mereka telah berinteraksi
dengan
investor, kreditor dan badan-badan internasional.
Hal ini mengingat di
Indonesia terdapat heteroginitas perusahaan
dari
perusahaan skala
mikro, kecil, menengah hingga yang besar.
sumber :
http://www.academia.edu/6362874/HARMONISASI_AKUNTANSI_INTERNASIONAL_DARI_KEBERAGAMAN_MENUJU_KESERAGAMAN_International_Accounting_Harmonization_From_Diversity_to_Uniformity
http://www.uin-alauddin.ac.id/download-6-SAIFUL_ASSETS.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)